Kita pernah mendengar teori tentang perubahan alam yang terjadi secara kontinyu: yang menang yang bertahan, sejauh ini teori ini memang mendukung keseimbangan biologis dari masa ke masa. Alam kita terus berubah secara klimatologi dan fisiologinya.
Hal ini tentu mendorong makhluk biologis yang mendiami alam untuk ikut beradaptasi dengan segala perubahan yang ditawarkan alam. Beberapa ribu tahun lalu, Dinosaurus menjadi salah satu species penguasa bumi, sekarang hanya menjadi cerita yang visualnya dihidupkan lagi lewat animasi dan kreasi di beberapa buku dan taman bermain anak-anak. Kelemahan adaptasi mereka, menjadi salah satu seleksi alam alami yang terjadi di muka bumi.
Definisi Evolusi Biologi dan Teori Darwin
Perubahan yang alami melalui konsistensi yang kontinyu inilah yang dikenal sebagai Evolusi Biologi. Teori evolusi yang paling fenomenal dan terkenal adalah Teori Darwin yang dituangkan dalam buku The Origin of Species (1859): Seleksi alam terjadi selama jutaan tahun, memungkinkan adanya perubahan genetika secara turun-temurun. Perubahan yang bertahap tentu mendukung teori ini, dimana setiap individu memiliki karakteristik genetika yang khas dan berbeda.
Adanya kombinasi, reproduksi antar species, juga rekayasa genetika menjadi alasan terjadinya perubahan yang signifikan dalam jutaan tahun. Individu dengan genetika yang paling sesuai dengan kondisi perubahan alamlah yang akan bertahan untuk terus hidup. Teori Darwin ini menjelaskan tentang keragaman Biologis yang ada dari masa ke masa bukan semata-mata dilahirkan dari lahirnya species baru di Bumi tapi dari proses panjang evolusi yang terjadi secara alami.
Perubahan pada bumi sendiri dipengaruhi oleh banyak faktor alami dan campur tangan manusia. Misalnya bencana alam seperti banjir atau longsor tanah yang mengubah habitat alami. Kembali lagi ke jaman Dinosaurus, banyak artikel ilmiah menjelaskan alasan singkat mengenai kepunahan ini akibat perubahan habitat mereka tinggal.
Pada waktu itu, adanya kegelapan total akibat tumbukan Asteroid di angkasa yang menutupi sinar matahari selama jutaan tahun membuat kegagalan fotosintesis dan perubahan cuaca yang ekstrem di permukaan bumi.
Selain itu aktivitas yang tinggi pada gunung vulkanik menghasilkan zat beracun dalam volume masif turut menyumbang kepunahan Dinosaurus. Evolusi bumi sejatinya sampai sekarang pun masih berlangsung tanpa kita sadari.
Selain faktor alam, sebetulnya perilaku kita juga turut mempengaruhi perubahan alam. Contohnya adanya aktivitas penebangan hutan secara liar, pembakaran hutan, dan penggunaan bahan kimia yang berlebihan tentunya akan mengubah keseimbangan biologis.
Ingat, perubahan alam mendorong makhluk hidup terus beradaptasi baik secara genetika atau perilaku agar terus dapat mewariskan gen terbaik yang mendukung keberlangsungan hidup setiap species yang ada.
Tiga Adaptasi yang Ditemukan pada Makhluk Hidup
Ada tiga adaptasi yang ditemukan pada makhluk hidup antara lain:
1. Adaptasi Morfologi
Habitat alam makhluk biologis tinggal tentu menuntut adanya penyesuaian bentuk dan struktur badan yang berbeda. Misalnya pada bentuk paruh burung dan kaki. Jenis makanan yang berbeda memberikan penyesuaian tinggi pada bentuk paruh burung agar memudahkan mereka mendapatkan makanannya.
Burung pemakan daging, morfologi paruhnya tentu harus tajam, lancip, dan kuat sehingga bisa mengoyak mangsa. Beda dengan burung pemakan biji yang cenderung memiliki bentuk kecil, pipih dan pendek. Sedangkan bentuk kakinya, untuk burung yang butuh mencengkeram mangsa sambil dibawa terbang, mereka memiliki kaki kuat, berkuku tajam dan runcing, serta strukturnya melengkung.
Berbeda dengan burung pejalan kaki yang membutuhkan struktur kokoh tapi fleksibel untuk menggaruk tanah, bentuk kakinya cenderung membentuk tiga jari ke depan dan satu ke belakang, tanpa selaput.
2. Adaptasi Fisiologi
Dari sisi fisiologi atau perubahan fungsi metabolisme kimiawi makhluk hidup juga menjadi cara adaptif agar dapat terus bertahan. Misalnya manusia ketika berada pada cuaca panas, kita mengeluarkan keringat untuk mempertahankan suhu dan kelembapan agar tidak cepat mengalami dehidrasi.
Burung Onta, karena habitat alaminya di gurun pasir yang agak sulit menemukan sumber air, mereka membawa simpanan air dalam punuk. Tidak semua adaptasi ini dipengaruhi oleh keadaan habitat biologinya namun ada juga bentuk adaptasi yang dipicu keberadaan predator alami masing-masing. Misalnya pada Sigung, jika mereka mendeteksi adanya predator utamanya burung hantu tanduk besar datang, mereka akan menghasilkan bau menyengat yang mengganggu proses berburu predator.
3. Adaptasi Perilaku
Faktor terakhir adalah kebiasaan atau tingkah laku khas yang dimiliki setiap makhluk hidup. Demi meloloskan diri dari predatornya, cicak mampu memutuskan ekornya sendiri (autotomi) sebagai usaha pengelabuan.
Kemudian bunglon, mereka bisa menyesuaikan warna tubuh sesuai dengan keadaan sekitar (mimikri). Ketika berada dekat daun, tubuhnya akan berwarna kehijauan sementara ketika berada dekat kayu warna tubuh menyesuaikan diri menjadi kecokelatan. Musuh menjadi kesulitan mengenali keberadaan diri si Bunglon.
Kegagalan Evolusi Biologi, Mungkinkah?
Tidak semua proses adaptasi pada makhluk hidup berhasil dilakukan. Perubahan yang terlalu cepat dan kaku, umumnya kurang sejalan dengan kemampuan makhluk hidup beradaptasi. Misalnya pada manusia dengan penyakit ginjal, secara alami sebetulnya tubuh menyesuaikan diri untuk mengimbangi kerusakan ginjal dengan mengubah beberapa proses metabolisme tubuh dengan proses penyimpanan cairan ke semua badan untuk meminimalisir kerja ginjal. Namun dalam kondisi lanjut, akhirnya terjadi kegagalan fungsi organ dan menyebabkan kematian.
Contoh lainnya ketika akan mengadakan pertukaran satwa seperti Panda Cina ke Indonesia, harus dilakukan oleh pakar secara bertahap. Perubahan iklim dari non tropis ke tropis seringkali membuat Panda butuh waktu untuk menyesuaikan diri.
Perubahan nyata ini memberikan ancaman di kemudian hari. Kalau kita bandingkan, suhu saat ini dengan dua puluh tahun lalu, akan terasa lebih sejuk dan belakangan ini terasa lebih panas menyengat. Hal ini dilandasi oleh perubahan suhu ekstrem akibat pemanasan global. Es-es yang ada di kedua kutub utara dan selatan beberapa tahun ini dilaporkan mengalami pencairan. Panasnya cuaca ini membuat lebih dari dua ribu species serangga tropis dapat mengalami kepunahan.
Tingginya suhu udara tidak cepat dibarengi dengan perubahan morfologi, fisiologi bahkan perilaku serangga-serangga ini. Menjaga lingkungan tetap asri dan seimbang tentu menjadi tanggung jawab generasi muda. Beragam proyek kelestarian alam, semisal dengan langkah nyata penanaman pohon, pengurangan perburuan liar, pembatasan pembabatan lahan untuk pemukiman, dapat melestarikan keanekaragaman hayati yang telah berlangsung jutaan tahun.
Frequently Asked Questions
Apakah evolusi biologi berlangsung terus-menerus?
Ya, evolusi terus terjadi sejak jaman dulu dan sampai kini terus berkembang. Kemampuan adaptif makhluk hidup diperlukan untuk memastikan species tetap hidup dan berkembang.
Apa isi Teori Darwin?
Keanekaragaman hayati terjadi akibat evolusi yang berlangsung terus-menerus.
Bagaimana bentuk adaptasi makhluk hidup terhadap evolusi biologi?
- Morfologi/Bentuk tubuh: Paruh dan kaki burung.
- Fisiologi/Proses biokimia: Manusia berkeringat, onta memiliki kantung air.
- Perilaku: Bunglon berubah warna, cicak memutus ekor.
Apakah evolusi biologi selalu berhasil?
Tidak, ada kalanya terjadi kegagalan bila perubahan terlalu cepat dan kaku. Adaptasi makhluk hidup tidak secepat evolusi yang terjadi, akibat ekstremnya adalah kepunahan.
